Peningkatan Kualitas Tanah
Tanaman yang sehat membutuhkan semua nutrisi untuk dapat tumbuh dan berproduksi; semua ini didapatkan dari tanah.
Oleh karenanya, tanah yang sehat dan hidup adalah faktor yang paling penting dalam kesuksesan pertanian dan perkebunan. Jika dimanfaatkan dengan teknik dan pengelolaan yang baik maka kesuburan tanah akan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Tanah yang sehat dan hidup haruslah:
Diberi nutrisi alami setiap musimnya
Dijaga dari erosi, untuk membentuk lapisan atas tanah yang berkualitas
Dilindungi dari matahari dan angin untuk menjaga kelembabannya Biota tanah dapat hidup di dalamnya
Beberapa manfaat tanah yang sehat dan hidup
Kualitas tanah yang lebih baik tidak hanya meningkatkan jumlah produksi, akan
tetapi juga meningkatkan kualitas produksi. Hal ini berhubungan langsung kepada
gizi yang baik – Kualitas tanah yang lebih baik berarti kualitas produksi yang lebih
baik dengan gizi yang lebih banyak. Dan rasanya juga semakin enak! Ini merupakan
salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kesehatan. Semakin sehat berarti
mengurangi kunjungan ke dokter, kemampuan berpikir dan berkonsentrasi akan
meningkat, lebih kuat dan berenergi, serta berumur panjang. Kualitas sayuran yang
baik juga membuat orang lebih cepat merasa kenyang ketika mereka memakannya
dan kenyangnya bertahan lebih lama
Tanaman akan terhindar dari kekeringan, penyakit dan hama karena mereka
mendapatkan banyak air dan unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan
tanaman yang kuat dan sehat
Membutuhkan pengairan yang lebih sedikit karena tanah dapat menahan dan
menampung air lebih banyak dan tanah lebih mudah menyerap air ketika musim
hujan
Tanah mempunyai jutaan “penggarap tanah” yang mengatur keberadaan dan
penyimpanan unsur hara, serta meningkatkan jumlah udara di dalam tanah. Cacing
adalah pekerja keras
Tanah lebih mudah untuk diolah dan digarap karena gembur dan mengandung
berbagai macam material
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk tanah yang sehat dan hidup biasanya didapat
dari sekitarnya dan organik, hal ini bisa menghemat uang
Apakah tanah yang sehat dan hidup?
Tanah yang sehat dan hidup mengandung humus, yang biasanya:
Menyediakan makanan untuk biota tanah, yang berguna sebagai pengurai tanah
dan mengubahnya menjadi makanan untuk tanaman
Menyimpan unsur hara bagi tanaman, seperti pupuk cair
Membantu menyatukan partikel tanah – Meningkatkan kualitas struktur tanah
Menyerap dan menyimpan air seperti spon
Humus terbuat dari:
Bahan-bahan organik yang hancur dan terurai =
Kompos
Mulsa
Kotoran hewan
Pengomposan akar tanaman
Pengomposan bagian-bagian tanaman
Tanah yang sehat itu hidup - Mengandung jutaan biota tanah yang mengubah bahan bahan organik dan unsur hara menjadi makanan untuk tanaman. Biota tanah meliputi bakteri, mikro-organisme, semut, cacing tanah dan banyak organisme kecil, serangga, dan binatang kecil lainnya.
Mengandung campuran partikel tanah liat dan pasir yang seimbang – Tanah liat mengikat mineral sedangkan pasir memungkinkan drainase / penyaluran air.
Ketika tanah ditekan seharusnya bersifat padat – Tidak berhamburan seperti pasir dan lengket seperti tanah liat.
Tersusun dari 50% tanah liat, pasir, humus dan bahan organik & 50% kantung udara
– Kantung-kantung udara sangatlah penting karena:
Menyediakan ruang bagi tanah untuk menyimpan air yang banyak
Udara memberikan oksigen yang dibutuhkan oleh akar tanaman untuk memproses
unsur hara
Pertumbuhan akar menjadi lebih mudah, cepat dan tumbuh lebih dalam ke tanah
– Sehingga akar tanaman bisa menyerap air dan unsur hara lebih banyak, dan
tanaman pun akan tumbuh lebih besar dan sehat
Tanah yang sehat berperan sebagai bank nutrisi dengan menyimpan unsur hara yang siap untuk digunakan oleh tanaman – Unsur hara tidak akan terlepas keluar dari tanah.
Tanah yang sehat mempunyai tingkat pH yang seimbang - Artinya, tidak terlalu asam (seperti cuka) dan tidak terlalu basa (seperti garam).
Teknik yang digunakan untuk mendapatkan tanah yang sehat dan hidup
Sebagian besar teknik tersebut sangatlah sederhana, mudah pengerjaannya, dan
menggunakan bahan-bahan dari sekitar tempat tinggal.
Menggunakan kompos organik dan kompos cair – Kedua jenis kompos ini
mengandung bermacam-macam unsur hara, murah pembuatannya, meningkatkan
jumlah biota, dan memperbaiki kualitas struktur tanah. Gunakanlah secara rutin
untuk meningkatkan kualitas tanah secara berkesinambungan
Memperbanyak jumlah biota tanah seperti mikro-organisme, bakteri, dan jamur
di dalam tanah - Hal ini bisa diwujudkan dengan penggunaan pupuk alami, mulsa
dan EM (Effective Micro-organism). Manfaatnya, kualitas tanah, segala bentuk
pertanian, dan produksi hewan akan meningkat
Menggunakan mulsa – Untuk melindungi tanah dari matahari, menghemat air dan
meningkatkan jumlah humus dalam tanah
Mendaur ulang bahan-bahan organik – Daur ulang tanaman dan kotoran binatang
untuk kembali ke sistem
Menggunakan legum / tanaman polong - Ada berbagai macam jenis legum yang
dapat menyediakan nitrogen, mulsa, dan bahan organik bagi tanah, makanan untuk
manusia dan ternak, sebagai penahan angin dan tanah, menjaga habitat binatang,
keanekaragaman, dan masih banyak lagi
Rotasi tanaman – Tiap-tiap tanaman membutuhkan unsur hara yang berbeda-beda
untuk tumbuh. Rotasi tanaman dan penanaman secara tumpang sari berguna untuk
menyeimbangkan unsur hara dan mudah untuk ditanam ulang
Metode Sederhana Pengujian Tanah
Dengan menggunakan uji coba sederhana berikut, Anda bisa mengidentifikasi jenis-jenis tanah.
Ambillah 3 atau lebih contoh tanah yang berbeda dan letakkan ke dalam toples
bening, kantong plastik atau botol secara terpisah
Isilah masing-masing wadah dengan 2/3 tanah dan kemudian tambahkan air
hingga penuh
Tutuplah wadah dengan rapat, kemudian kocoklah
Setelah tanah didiamkan beberapa saat, maka Anda akan melihat komponen komponen dari tanah Anda tadi:
Tanah liat akan berada paling atas
Lumpur (sedimen di antara tanah liat dan pasir) di bawahnya
Kemudian pasir halus
Pasir kasar yang mengendap paling bawah
Dari pengamatan isi wadah-wadah tersebut dan perbandingan dari komponen-komponen yang berbeda pada tanah, Anda akan mengetahui berapa kandungan pasir atau tanah liat tanah tersebut, yang kemudian akan membantu Anda memilih metode yang cocok untuk meningkatkan kualitas tanah.
Untuk penjelasan yang lebih jelas mengenai teknik meningkatkan kualitas tanah, baik tanah pasir maupun tanah liat, bacalah bagian jenis-jenis tanah pada Buku PK MOD 4
– Tanah yang Sehat.
Ciri2 kekurangan unsure hara :
Nitrogen
Daun dan pertumbuhan baru menguning dan pucat; Matang lebih cepat, ukuran buah dan bunganya kecil Legum, ikan, gula merah dan kelapa
Potasium
Daunnya kecil, berwarna lebih gelap; Daun yang tua berwarna biru / ungu dengan pinggiran kuning;
Pertumbuhannya lambat
Abu dari sisa pembakaran dapur
Fosfor
Ukuran buahnya kecil dan berwarna tidak cerah
Pinggiran daun mengering dan daun tua yang menguning
Bubuk tulang hewan dengan cuka
Magnesium
Pinggiran daun menguning, ada bercak kuning, urat daun hijau; Sering ada bercak coklat pada daun; Daun yang tua gugur lebih cepat
Bayam, biji-bijian, kacang-kacangan (khususnya almond)
Sulfur / Belerang Semua daun warnanya memudar Bisa diperoleh dekat mata air
panas dan dekat gunung berapi
Kalsium Daun baru serta tunas tumbuh dan berkembang tidak baik; Pertumbuhan buahnya tidak biasa Tulang hewan, kulit kerang
Dalam hutan alami, daun, pepohonan dan batang-batang yang membusuk,
kotoran binatang, dan bahkan bangkai binatang semuanya akan terurai
menjadi mulsa yang menyelimuti tanah, seperti kulit.
Kulit ini terus-menerus bertambah dan secara berkelanjutan mengalami pembusukan.
Mulsa (kulit) bermanfaat untuk:
Unsur hara dan bahan-bahan organik untuk tanah yang berguna bagi tanaman dan
pepohonan
Suplai makanan yang tidak habis-habisnya bagi tanaman dan biota (binatang) tanah
di kebun Anda
Dapat mengurangi populasi gulma yang tumbuh di sekitar daerah Anda
Menyesuaikan suhu tanah, sehingga menghasilkan lingkungan yang lebih sehat
untuk tanaman
Menyeimbangkan pH tanah
Meningkatkan kualitas struktur tanah dan membuat tanah lebih mudah diolah
Penahan air di dalam tanah
Pelindung alami bagi tanah dari kekeringan yang disebabkan oleh matahari
Pelindung alami dari hujan yang bisa menimbulkan erosi
Pelindung alami dari kekeringan dan erosi yang disebabkan oleh angin
Dengan belajar dari alam, pertumbuhan, pembuatan dan penggunaan mulsa,
manusia dapat meningkatkan kualitas tanah dengan pesat
Berbagai metode dan tips untuk pemulsaan
Sebelum pembuatan mulsa:
Gunakanlah batu, dahan yang besar dan bahan apapun yang dapat digunakan untuk
membuat batas kebun. Ini akan membantu untuk menahan mulsa, memberikan
ruang bagi tanah untuk berkembang dan mencegah erosi
Jika Anda menaruh kompos di bawah mulsa, ini akan memaksimalkan manfaat
kompos
Kapan / dimana menggunakan mulsa:
Untuk pembibitan dan persemaian, mulsa terlebih dahulu baru kemudian tanaman
Untuk tanaman, di bawah tajuk daun terluar adalah daerah terpenting untuk diberikan mulsa – Pemberian mulsa secara terus-menerus akan membantu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman
Untuk sayur-sayuran, tanaman dan pepohonan, JANGAN SAMPAI mulsa menyentuh
batang atau pangkal tanaman. Ini sangat penting untuk mencegah jamur dan
pembusukan, terutama di musim hujan
Pematang mulsa akan membantu menyimpan air
Jenis-jenis mulsa yang digunakan:
Gunakan mulsa halus (mulsa yang teksturnya lebih kecil) untuk lahan sayuran dan
mulsa kasar (mulsa yang ukurannya lebih besar) untuk tanaman dan pepohonan
yang lebih besar
Bila Anda menggunakan gulma sebagai mulsa, pisahkan benih gulma dan berikan
pada hewan atau masukkan ke kompos cair – Ini akan mengurangi pertumbuhan
gulma di kemudian hari
Legum, rerumputan, dan tanaman serta pepohonan lainnya dapat ditanam untuk
memproduksi mulsa
Sekam padi dan kopi harus dikomposkan terlebih dahulu atau dikeringkan sebelum
digunakan sebagai mulsa – Tumpuk terlebih dahulu selama 1 bulan sebelum
digunakan
Berapa banyak mulsa yang dibutuhkan:
Pastikan selalu tersedia lapisan mulsa yang cukup di permukaan bedeng kebun
Lapisan mulsa sebaiknya setebal kurang lebih 5-10 cm, atau 20 cm untuk tanaman
buah-buahan
Kacang-kacangan Untuk sayuran, memberi nitrogen ke
tanah Dimana saja
Kelor Untuk sayuran, memberi nitrogen ke tanah, pengendali hama (semut) Tanah yang kering
Bunga merak Tanaman penghias, memberi nitrogen ke tanah Tanah yang kering
Pohon turi Memberi nitrogen ke tanah, tanaman peneduh Sawah, pinggiran jalan
Pohon gamal Pakan ternak, tanaman peneduh, memberi nitrogen ke tanah Kebun, sawah, lading Lamtoro
Pakan ternak, tanaman peneduh, memberi nitrogen ke tanah, untuk sayuran
Kebun, sawah, lading Pete Tanaman peneduh, member nitrogen ke tanah, untuk sayuran Kebun, sawah, ladang
Jengkol Tanaman peneduh, member nitrogen ke tanah, untuk sayuran Kebun, sawah, lading Nitrogen adalah salah satu unsur yang paling penting untuk kesehatan batang, sel, dan pertumbuhan daun. Nitrogen juga bermanfaat untuk meningkatkan produksi buah.
Legum merupakan tanaman yang memberikan nitrogen dalam tanah. Ada berbagai jenis legum di Indonesia, diantaranya legum musiman (perputaran hidupnya selesai dalam 1 tahun) dan legum tahunan (perputaran hidupnya selesai dalam 2 tahun atau lebih).
Bagaimana tanaman legum memberikan nitrogen ke dalam tanah
Bakteri di dalam tanah disebut Rhizobium, hidup menempel pada akar tanaman legum, yang “mengikat” nitrogen dari udara ke dalam tanah melalui bintilan yang sangat kecil yang disebut “nodules”. Nodules-nodules ini:
Melekat pada akar tanaman
Berukuran sebesar ujung korek api atau bisa lebih kecil
Menyediakan nitrogen untuk tanaman legum
Jika legum mati atau akar mereka melepaskan kelebihan nitrogennya melalui nodules, kelebihan nitrogen yang tidak terpakai lagi oleh tanaman legum ini akan masuk ke dalam tanah dan kemudian bisa dimanfaatkan oleh tanaman lain.
Sebagaimana halnya dapat “mengikat” nitrogen, legum dapat menghasilkan
berbagai macam produk dan fungsi lainnya:
Produk – Bahan pangan, pakan ternak, mulsa, bahan kompos, kayu gelondongan,
kayu bakar, dan obat-obatan
Fungsi – Sebagai penahan angin, pagar hidup, tanaman peneduh, dan teralis
Legum musiman dapat tumbuh bersama dengan sayuran, tanaman musiman dan
pepohonan.
Teknik-teknik untuk memanfaatkan legum musiman:
Rotasi tanaman • Tanaman pupuk hijau • Tumpangsari tanaman musiman
Legum tahunan dapat tumbuh bersama dengan tanaman musiman, pohon buah-buahan dan pohon lainnya.
Teknik-teknik untuk memanfaatkan legum tahunan:
Pagar hidup • Terasering tanaman legume Tumpangsari tanaman tahunan • Tanaman perintis
3 macam metode pemanfaatan legum dalam kegiatan ini meliputi:
Menanam tanaman pupuk hijau dari tanaman musiman
Menanam bibit atau stek legum tahunan pada terasering atau sengkedan, jika memungkinkan
Memangkas legum yang sudah besar untuk pakan ternak, bahan kompos atau mulsa
Persiapan
Bibit-bibit legum musiman untuk ditanam sebagai tanaman pupuk hijau
Bedeng kebun atau lahan yang telah siap untuk tanaman pupuk hijau
Bibit-bibit atau stek legum tahunan untuk ditanam
Jika memungkinkan, sengkedan atau terasering yang telah siap ditanami legum
Tanaman legum yang besar yang bisa dipangkas kembali
Catatan: penanaman legum tahunan akanmendapat hasil yang lebih baik (dan juga menunjukkan integrasi teknik-teknik) jika legumdapat ditanam di tempat yang sudah berbentuk sengkedan atau terasering pada konturlahan yang menggunakan bingkai-A. Jika terasering / sengkedan saling berdekatan,tanamlah legum di setiap dua tingkat terasering / sengkedan. Terasering / sengkedanyang tidak ditanami legum dapat ditanami nanas, sereh atau tanaman sejenis lainnya.Hal ini dapat mengurangi masalah yang ditimbulkan akibat terlalu banyak naungan. Jikatidak memungkinkan, tanamlah legum sebagai pagar hidup di sekeliling kebun.
Kompos adalah bahan-bahan organik yang terurai berasal dari biota tanah (binatang) yang
menguraikan bahan-bahan organik tersebut menjadi sumber unsur hara yang kaya dan terkonsentrasi.
Komponen utama kompos adalah karbon dan nitrogen – Bahan-bahan tanaman
mengandung lebih banyak karbon dan sedikit nitrogen, pupuk kandang mengandung
lebih banyak nitrogen dan sedikit karbon. Bahan ini juga mengandung unsur hara lainnya berupa mineral, bahan-bahan sisa dan biota tanah.
Kompos dapat ditambahkan pada akar tanaman buah-buahan atau di antara tanaman sayuran untuk memberikan unsur hara tambahan. Kompos tidak hanya menyediakan unsur hara bagi tanaman sayuran dan buah-buahan tapi juga dapat meningkatkan kualitas tanah. Hal ini sangatlah penting bagi pertumbuhan tanaman.
Ada berbagai macam cara untuk membuat kompos – Dari campuran yang sederhana
seperti sekam padi dan kotoran sapi, hingga berbagai campuran dari bahan yang
berbeda-beda. Gunakanlah bahan-bahan yang sudah tersedia di sekitar Anda.
Manfaat-manfaat utama kompos bagi tanaman dan tanah
Pupuk cair adalah unsur hara yang sangat bagus, kaya kandungan pupuk alaminya,
yang dapat dibuat dari sedikit pupuk kandang dan bahan-bahan organik lainnya. Sangat mudah untuk disiapkan dan bermanfaat untuk pembenihan, perkebunan, persawahan, tanaman kecil, tanaman buah-buahan dan tanaman besar lainnya. Juga sangat mudah untuk disiramkan pada lahan-lahan yang luas. Pupuk cair dapat dibuat dalam wadah ukuran apapun, dari ember hingga drum – Semakin besar, semakin baik. Dapat dibuat dan disimpan dimana saja pada areal pertanian yang memerlukannya. Pupuk cair sangatlah kuat sehingga perlu dicampur dengan air dalam pemakaiannya. Oleh karena itu, pupuk ini akan bertahan lama, tapi juga berarti sebaiknya disimpan dekat dengan sumber air.
Ada 6 metode berbeda tentang pengomposan,
Metode-metode ini, antara lain:
1. Membuat tumpukan kompos cepat – Dibuat sekaligus dari berbagai macam
bahan, terurai setelah 2 minggu dan siap pakai dalam 1 bulan. Sangat baik untuk
kebun keluarga dan agrikultur yang intensif
2. Membuat kompos lambat – Terus-menerus dibuat dalam kurun waktu tertentu dan
biasanya dibuat lebih banyak daripada kompos cepat. Sangat baik untuk pertanian
dan pohon-pohon besar
3. Parit dan keranjang kompos – Merupakan bagian dari bedeng kebun atau
ditempatkan di sebelah pohon buah-buahan, dapat ditempatkan di dalam tanah dan
juga di atas tanah, terus-menerus menyediakan pasokan unsur hara bagi tanaman
melalui tanah, sebagaimana layaknya kompos yang diletakkan di atas bedeng
4. Lubang pisang / lubang kompos – Sebuah lubang besar untuk membuat kompos lambat. Kompos akan terus-menerus memberi unsur hara kepada pohon pisang atau pohon apapun yang ditanam di sekitar lubang, dan jika telah siap kompos dapat dipindahkan untuk dimanfaatkan di tempat lain
5. Pengomposan langsung - Kompos cepat ditempatkan pada lahan dimana bedeng kebun akan dibuat atau tanaman buah-buahan akan ditanam. Tanah dan tanaman yang baru akan memperoleh cukup persediaan makanan bagi tanaman dan biota tanah dari kompos
6. Pupuk cair – Makanan bagi tanaman dan bakteri yang baik dalam bentuk cair.
Sangat baik untuk hasil yang cepat dan lahan yang luas
>>Memperbaiki struktur tanah, memelihara cacing tanah, memperbaiki suhu tanah, media kompos
Tempatkan di bawah pohon
>>Pupuk organik N Mengatur daun yang kuning dan pucat, serta pertumbuhan baru; Tumbuh sehat dan menghasilkan buah dan bunga 1 cc ekstrak dicampur dengan 1 liter air, semprotkan
>>Pupuk organik P/Ca Buah yang baik dan warna terang; Memupuki tepi daun 1 cc ekstrak dicampur dengan 1 liter air, semprotkan
>>Pupuk organik K Daun tumbuh baik, berwarna hijau; Pertumbuhan tanaman biasa 1 cc ekstrak dicampur dengan 1 liter air, semprotkan
>>Pengendali hama Serangga 1 cc ekstrak dicampur dengan 1 liter air, semprotkan (tergantung pada kekuatan hama)
Catatan: Jika pupuk cair tidak cukup encer maka daun dan akar pada tanaman dapat terbakar karena terlalu banyaknya unsur hara sekaligus – Tanaman muda lebih sensitive dibanding yang tua, yang lebih kuat.
menggunakan pupuk cair secara langsung, siramlah tanaman pada pagi-pagi sekali
atau petang menjelang malam, dengan menggunakan alat penyiram atau kaleng
dengan lubang. Jika tidak, sinar matahari akan membakar daun-daun tersebut
Siramkan pupuk cair yang sudah diencerkan pada tanah di sekitar tanaman
10 liter ukuran ember seharusnya cukup untuk menyirami kebun dengan kira-kira
10 pembibitan atau 3-5 tanaman yang sudah besar
Untuk tanaman muda yang berusia hingga 3 tahun membutuhkan sebuah ember
besar berukuran 20 liter, untuk tiap pohon
Untuk pohon yang lebih tua gunakanlah hingga 3 ember besar, untuk tiap pohonnya
Bila terdapat pipa penyiraman ke dalam tanah, siramkan setengah pupuk cair ke
dalam pipa penyiraman dan setengahnya lagi langsung siramkan ke tanah
Pentingnya cacing pada kesehatan tanah
Cacing tanah merupakan “kebenaran di lahan kebun” – Banyaknya cacing di dalam
tanah Anda menunjukkan bahwa tanah Anda merupakan lingkungan hidup yang sehat.
Bagaimana cacing membantu menciptakan dan merawat tanah yang sehat:
Cacing memakan dan memuntahkan tanah – Ketika tanah berada di dalam tubuh
cacing, humus pada tanah berubah menjadi unsur hara dan kualitas tanah meningkat
Cacing secara terus-menerus akan:
Mengubah humus menjadi unsur hara yang berguna bagi tanaman
Menggali dan menambah udara dalam tanah
Meningkatkan struktur tanah dan drainase air
Membawa unsur hara dari dalam tanah untuk menyalurkan makanan ke akar
tanaman
Cacing sangatlah ekonomis:
Dalam 1 tahun setiap cacing mampu memakan dan memuntahkan berton-ton
tanah
Setiap tahun, setiap cacing melahirkan 150 anakan cacing
Tampilkan postingan dengan label ABI-OS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABI-OS. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Januari 2010
Senin, 04 Januari 2010
KETIKA LAHAN MULAI TANDUS
Teknologi Pemupukan
Lampu kuning ketahanan pangan di negeri ini mulai menyala. Tanda itu terlihat pada tanah pertanian yang mengering hingga tandus dan mulai banyak ditinggalkan petani.
Itu belum termasuk ancaman lain, seperti gagal panen karena hama dan anomali cuaca serta aspek non-teknis yang melemahkan daya saing petani.
Terpuruknya sektor pertanian sebagai lumbung pangan ratusan penduduk berarti pula mengancam ekonomi dan kedaulatan negeri yang berslogan “Gemah ripah loh jinawi” ini. Lalu, adakah cara membenahinya ?
Bicara pangan pokok, perhatian kita umumnya masih mengarah kepada padi atau beras. Itulah yang membuat Indonesia menggenjot produksi padi hingga dapat berswasembada beras pada tahun 1984.
Langkah Indonesia dan negara Asia lainnya dalam mengembangkan teknologi persawahan modern populer dengan sebutan Revolusi Hijau. Revolusi ini pada abad lalu berhasil menyelamatkan bangsa di Asia, termasuk Indonesia, dari bencana kurang pangan dalam hal ini beras.
Ada tiga faktor kunci dalam melaksanakan revolusi itu, yaitu varietas padi unggul, irigasi, dan pupuk. Teknologi pembuatan pupuk difokuskan pada nitrogen (N) sebagai unsur hara penting bagi kehidupan tanaman, yamg mulai diproduksi tahun 1913.
Ironisnya, Indonesia kini kembali di ambang krisis beras dan mulai bergantung pada beras impor yang kini ketersediaannya di pasar dunia terus berkurang. Kondisi ini jelas mengancam Indonesia yang jumlah penduduknya terus membengkak dan belum mampu mengurangi ketergantungan dari produk pertanian tersebut.
Lalu, para pakar teknologi pertanian kembali menilik teknologi yang diterapkan selama Revolusi Hijau. Adakah yang salah? Menurut para pakar petanian, termasuk Widjang Herry Sisworo, pakar ilmu tanah dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), teknologi yang di alihkan negara maju ke negara berkambang itu kurang sesuai karena bersifat boros energi dan menguras sumber daya alam.
“Introduksi varietas baru padi hanya berhasil jika didukung penggunaan pupuk yang tinggi,” ujarnya. Kondisi ini memberatkan petani karena harga pupuk amonia yang dihasilkan dari industri petrokimia melonjak, sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi. Sementara itu, produksi padi mengalami pelandaian sejak awal tahun 1990-an, yang naik hanya 0,2 persen hingga tahun 2004.
Tanah sawah beririgasi selama tiga dekade lebih terus dipacu untuk berproduksi tinggi melalui pemberian pupuk buatan, terutama N, dengan takaran yang terus meningkat. Laporan riset KG Cassman dan PL Pingali pada tahun 1995 bahkan mengungkapkan penggunaan pupuk N di sawah irigasi teknis telah melampaui batas.
Karena itu. Menurut mereka, harus dilakukan efisiensi penggunaan pupuk buatan sebab bahan baku produksinya terbatas dan mahal. Produksi pupuk buatan mengharuskan pembakaran 500 juta ton batu bara per tahaun. Artinya, akan teremisi gas karbon dan nitrogen oksida serta polusi nitrat dalam air tanah.
Azolla penambat Nitrogen (N)
Intensifikasi pertanian, karena itu, harus di arahkan untuk penyediaan N alamiah yang murah dan hemat enegi. Proses alamiah yang di maksud adalah fiksasi atau penambahan N ke dalam tanah secara biologis, yang secara global bisa mencapai sekitar 170 juta ton per tahun. Jumlah ini kira – kira tiga kali jumlah pupuk N yang digunakan di lahan pertanian.
Penambatan N dari udara pada tanah secara alamiah dihasilkan oleh tanaman paku air, yaitu Azolla. Hingga kini diketahui ada enam spesies Azolla yang tersebar di dunia, antara lain Azolla pinata dan Azolla caroliniana. Tumbuhan yang berasosiasi simbiotik dengan ganggang hijau biru (Anabaena azollae), misalnya, mampu menimbun 25 kg -30 kg N per hektar dalam 30 hari.
Penelitian yang dilakukan enam negara, yaitu Brazil, China, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand, menunjukkan Azolla mampu menyediakan N bagi padi sama baiknya dengan urea. Azolla juga dapat menurunkan kemasaman tanah. Di Sri Lanka, Azolla di persawahan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk hingga 56 persen dan meningkatkan hasil padi 35 persen di Thailand.
Fungsi bahan organik
Intensifikasi padi selama ini disertai pemberian bahan organik yang sangat minim. “Keadaan ini mengakibatkan tanah menjadi ‘sakit’ dan ‘lapar’ ,” Padahal, bahan organik diperlukan sebagai sumber karbon yang merupakan “pakan” dan energi bagi metabolisme dan perkembangbiakan jasad renik penghuni tanah. “Karen itu, dapat dikatakan pupuk buatan adalah pakan bagi tanaman, sedangkan bahan organik makanan untuk tanah,” Berdasarkan pemahaman itu, intensifikasi harus dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber hara secara optimal. Peningkatan unsur N saja tidak akan menghasilkan produktivitas yang tinggi tanpa diikuti penggunaan fosfor (P), kalium (K), belerang (S), dan sing (Zn) dalam kadar yang memadai.
Pengoptimalan sumber hara juga dapat dikembangkan di lahan kering atau terdegradasi kesuburannya. Tanah itu kadar nitrogen dan airnya tak memadai bagi kehidupan tanaman.
Penambatan N biologis juga dapat mengoreksi minimnya kadar bahan organik sehingga dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah “memegang” air. Selain itu, bertambahnya kandungan bahan organik tanah juga meningkatkan aktivitas biologis jasad renik, proses pendauran, dan transformaasi unsur hara dalam tanah.
Sebaliknya, rendahnya kandungan bahan organik membuat struktur tanah buruk sehingga tanah mudah tergenang air, peka terhadap erosi dan kekeringan. Pengembangan lahan kering menjadi lahan pertanian yang produktif juga memerlukan reduksi keasaman tanah yang menyebabkan terjadinya keracunan aluminium dan mangan.
Gerakan pengomposan
Unsur hara terus berkurang karena terbawa tanaman yang dipanen hingga membuat tanah tandus, daur unsur hara terputus. “Sampah organik sebagai hasil sisa pemanfaatan produk pertanian yang berasal dari desa ditumpuk di tempat pembuangan sampah di perkotaan. Harusnya dikembalikan desa, menjadi pupuk kompos. Karena sampah organik adalah sumber hara bagi tanaman.
Pemberian pupuk buatan membuat tanah mengeras. Sebaliknya, dengan pupuk kompos dapat mengembalikan kegemburan tanah. Karena itu, perlu digalang gerakan pengomposan sampah untuk memperbaiki lahan tandus sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk di pedesaan dan mengurangi subsidi pupuk buatan yang masih diimpor.
Lampu kuning ketahanan pangan di negeri ini mulai menyala. Tanda itu terlihat pada tanah pertanian yang mengering hingga tandus dan mulai banyak ditinggalkan petani.
Itu belum termasuk ancaman lain, seperti gagal panen karena hama dan anomali cuaca serta aspek non-teknis yang melemahkan daya saing petani.
Terpuruknya sektor pertanian sebagai lumbung pangan ratusan penduduk berarti pula mengancam ekonomi dan kedaulatan negeri yang berslogan “Gemah ripah loh jinawi” ini. Lalu, adakah cara membenahinya ?
Bicara pangan pokok, perhatian kita umumnya masih mengarah kepada padi atau beras. Itulah yang membuat Indonesia menggenjot produksi padi hingga dapat berswasembada beras pada tahun 1984.
Langkah Indonesia dan negara Asia lainnya dalam mengembangkan teknologi persawahan modern populer dengan sebutan Revolusi Hijau. Revolusi ini pada abad lalu berhasil menyelamatkan bangsa di Asia, termasuk Indonesia, dari bencana kurang pangan dalam hal ini beras.
Ada tiga faktor kunci dalam melaksanakan revolusi itu, yaitu varietas padi unggul, irigasi, dan pupuk. Teknologi pembuatan pupuk difokuskan pada nitrogen (N) sebagai unsur hara penting bagi kehidupan tanaman, yamg mulai diproduksi tahun 1913.
Ironisnya, Indonesia kini kembali di ambang krisis beras dan mulai bergantung pada beras impor yang kini ketersediaannya di pasar dunia terus berkurang. Kondisi ini jelas mengancam Indonesia yang jumlah penduduknya terus membengkak dan belum mampu mengurangi ketergantungan dari produk pertanian tersebut.
Lalu, para pakar teknologi pertanian kembali menilik teknologi yang diterapkan selama Revolusi Hijau. Adakah yang salah? Menurut para pakar petanian, termasuk Widjang Herry Sisworo, pakar ilmu tanah dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), teknologi yang di alihkan negara maju ke negara berkambang itu kurang sesuai karena bersifat boros energi dan menguras sumber daya alam.
“Introduksi varietas baru padi hanya berhasil jika didukung penggunaan pupuk yang tinggi,” ujarnya. Kondisi ini memberatkan petani karena harga pupuk amonia yang dihasilkan dari industri petrokimia melonjak, sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi. Sementara itu, produksi padi mengalami pelandaian sejak awal tahun 1990-an, yang naik hanya 0,2 persen hingga tahun 2004.
Tanah sawah beririgasi selama tiga dekade lebih terus dipacu untuk berproduksi tinggi melalui pemberian pupuk buatan, terutama N, dengan takaran yang terus meningkat. Laporan riset KG Cassman dan PL Pingali pada tahun 1995 bahkan mengungkapkan penggunaan pupuk N di sawah irigasi teknis telah melampaui batas.
Karena itu. Menurut mereka, harus dilakukan efisiensi penggunaan pupuk buatan sebab bahan baku produksinya terbatas dan mahal. Produksi pupuk buatan mengharuskan pembakaran 500 juta ton batu bara per tahaun. Artinya, akan teremisi gas karbon dan nitrogen oksida serta polusi nitrat dalam air tanah.
Azolla penambat Nitrogen (N)
Intensifikasi pertanian, karena itu, harus di arahkan untuk penyediaan N alamiah yang murah dan hemat enegi. Proses alamiah yang di maksud adalah fiksasi atau penambahan N ke dalam tanah secara biologis, yang secara global bisa mencapai sekitar 170 juta ton per tahun. Jumlah ini kira – kira tiga kali jumlah pupuk N yang digunakan di lahan pertanian.
Penambatan N dari udara pada tanah secara alamiah dihasilkan oleh tanaman paku air, yaitu Azolla. Hingga kini diketahui ada enam spesies Azolla yang tersebar di dunia, antara lain Azolla pinata dan Azolla caroliniana. Tumbuhan yang berasosiasi simbiotik dengan ganggang hijau biru (Anabaena azollae), misalnya, mampu menimbun 25 kg -30 kg N per hektar dalam 30 hari.
Penelitian yang dilakukan enam negara, yaitu Brazil, China, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand, menunjukkan Azolla mampu menyediakan N bagi padi sama baiknya dengan urea. Azolla juga dapat menurunkan kemasaman tanah. Di Sri Lanka, Azolla di persawahan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk hingga 56 persen dan meningkatkan hasil padi 35 persen di Thailand.
Fungsi bahan organik
Intensifikasi padi selama ini disertai pemberian bahan organik yang sangat minim. “Keadaan ini mengakibatkan tanah menjadi ‘sakit’ dan ‘lapar’ ,” Padahal, bahan organik diperlukan sebagai sumber karbon yang merupakan “pakan” dan energi bagi metabolisme dan perkembangbiakan jasad renik penghuni tanah. “Karen itu, dapat dikatakan pupuk buatan adalah pakan bagi tanaman, sedangkan bahan organik makanan untuk tanah,” Berdasarkan pemahaman itu, intensifikasi harus dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber hara secara optimal. Peningkatan unsur N saja tidak akan menghasilkan produktivitas yang tinggi tanpa diikuti penggunaan fosfor (P), kalium (K), belerang (S), dan sing (Zn) dalam kadar yang memadai.
Pengoptimalan sumber hara juga dapat dikembangkan di lahan kering atau terdegradasi kesuburannya. Tanah itu kadar nitrogen dan airnya tak memadai bagi kehidupan tanaman.
Penambatan N biologis juga dapat mengoreksi minimnya kadar bahan organik sehingga dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah “memegang” air. Selain itu, bertambahnya kandungan bahan organik tanah juga meningkatkan aktivitas biologis jasad renik, proses pendauran, dan transformaasi unsur hara dalam tanah.
Sebaliknya, rendahnya kandungan bahan organik membuat struktur tanah buruk sehingga tanah mudah tergenang air, peka terhadap erosi dan kekeringan. Pengembangan lahan kering menjadi lahan pertanian yang produktif juga memerlukan reduksi keasaman tanah yang menyebabkan terjadinya keracunan aluminium dan mangan.
Gerakan pengomposan
Unsur hara terus berkurang karena terbawa tanaman yang dipanen hingga membuat tanah tandus, daur unsur hara terputus. “Sampah organik sebagai hasil sisa pemanfaatan produk pertanian yang berasal dari desa ditumpuk di tempat pembuangan sampah di perkotaan. Harusnya dikembalikan desa, menjadi pupuk kompos. Karena sampah organik adalah sumber hara bagi tanaman.
Pemberian pupuk buatan membuat tanah mengeras. Sebaliknya, dengan pupuk kompos dapat mengembalikan kegemburan tanah. Karena itu, perlu digalang gerakan pengomposan sampah untuk memperbaiki lahan tandus sekaligus mengatasi kelangkaan pupuk di pedesaan dan mengurangi subsidi pupuk buatan yang masih diimpor.
MANFAAT TANAMAN AZOLLA
Azolla microphylla di kolam dipanen dengan serok. Azolla basah dan kering. Azolla basah disukai oleh ikan, itik, maupun ternak besar seperti kambing, sapi, dll. Azolla kering bisa dicampurkan dalam pembuatan pakan ternak untuk menambah nilai gizi, terutama protein.
Dengan Azolla kesuburan sawah dapat ditingkatkan, petani tidak perlu lagi mendatangkan pupuk Urea dan lainnya, ikan yang ada di sawah juga akan berkembang biak dan tumbuh pesat, serta itik yang dilepas di sawah men-dapatkan sumber makanannya yang melimpah, yaitu Azolla microphylla.
Menurut hitungan kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an Azolla, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman Azolla (pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air ini cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, Azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, Azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.
Pengganti Urea
Pemanfaatan Azolla sebagai pupuk ini memang memung-kinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (Azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan Azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila Azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung Azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, Azolla mensubstitusi-kan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.
Dibanding pupuk buatan, Azolla memang lebih ramah ling-kungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena Azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.
Untuk media tanam
Penggunaan azolla sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, Azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos Azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Untuk membuat kompos Azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian Azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian Azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 per-sen, Azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.
Pakan ternak dan ikan
Selain untuk pupuk dan media tanam, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kan-dungan gizi Azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbo-hidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan Azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran Azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran Azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini berarti penggunaan Azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup me-nguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, Azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung Azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar Azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa Azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet. Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila Azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan.
Dengan Azolla kesuburan sawah dapat ditingkatkan, petani tidak perlu lagi mendatangkan pupuk Urea dan lainnya, ikan yang ada di sawah juga akan berkembang biak dan tumbuh pesat, serta itik yang dilepas di sawah men-dapatkan sumber makanannya yang melimpah, yaitu Azolla microphylla.
Menurut hitungan kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an Azolla, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman Azolla (pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air ini cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, Azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, Azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.
Pengganti Urea
Pemanfaatan Azolla sebagai pupuk ini memang memung-kinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (Azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan Azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila Azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung Azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, Azolla mensubstitusi-kan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.
Dibanding pupuk buatan, Azolla memang lebih ramah ling-kungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena Azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.
Untuk media tanam
Penggunaan azolla sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, Azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos Azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Untuk membuat kompos Azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian Azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian Azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 per-sen, Azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.
Pakan ternak dan ikan
Selain untuk pupuk dan media tanam, Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kan-dungan gizi Azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbo-hidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan Azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran Azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran Azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini berarti penggunaan Azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup me-nguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, Azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung Azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar Azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa Azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet. Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila Azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan.
AGRICULTUR BIOLOGICAL - SYSTEM 1
AGRICULTUR BIOLOGOCAL - ORGANISM SYSTEM
ABI-OS merupakan terapan pengolahan lahan pertanian secara alami. Terapan ini lebih mengutamakan perbaikan lahan sebagai bentuk infestasi di bidang pertanian. sehingga dari kondisi lahan yg sempurna dengan perbaikan scr kontinyu diharapkan akan diperoleh hasil pertanian yg maksimal, baik secara kwantitatif maupun kwalitatif.
Terapan sistem pengolahan ini, memanfaatkan sistem kerja microbiologi & organisme, dan sebenarnya kedua hal tsb sudah diterapkan pd sistem pertanian pd jaman nenek moyang kita dulu.
MICROBIOLOGI SYSTEM
Berkaitan dengan proses Fisika ( pelapukan ), Biologi ( fermentasi ), dan Kimia ( penguraian)
Sebenarnya ketiga proses ini secara alamiah berjalan, meskipun dalam jangka waktu yg lama.
Dengan aplikasi ini, proses tersebut bisa dipercepat. Sehingga proses perbaikan lahan dapat berjalan secara kontinyu seiring dengan pembudidayaan lahan pertanian.
Dengan sistem ini dapat diperoleh hasil panen yg maksimal dengan aplikasi pengolahan lahan pertanian yg baik, benar, berbudaya.
Maksudnya :
1.Pengolahan lahan pertanian haruslah dimulai dengan tahapan2 yg runtut & benar, mulai dr proses pembalikan tanah sampai lahan siap tanam hrs benar2 diaplikasikan.
Hal ini dimaksudkan untuk menyediakan kecukupan oksigen di dalam tanah, shg tanah memberi ruang yg cukup bagi proses pengembangbiakan mocribiologi & mocroorganisme.
Sehingga secara otomatis proses biological akan berjalan sempurna.
2.Mengurangi / meniadakan pemakaian pupuk kimia.
Hal ini harus dilakukan karena pemakaian pupuk kimia yg berlebihan akan mengakibatkan penumpukan residu logam didalam tanah. Yang mengakibatkan struktur tanah akan menjadi terlalu liat & keras & warna tanah akan menjadi pucat karena kekurangan unsur hara & mineral tanah', dan akhirnya akan berpengaruh pd hasil panen yg menurun.
3.Mengurangi / meniadakan pemakaian pestisida & insectisida kimia. Karena kedua bahan tersebut juga meninggalkan residu logam di dalam tanah.
Peningkatan residu logam scr terus menerus,mengakibatkan fungsi microbiologi tidak berjalan dengan semestinya, bahkan pada titik tertentu akan memunculkan mutasi hama/ penyakit tanaman yg baru dan sulit untuk diberantas.
Residu logam juga berpengaruh bagi kesehatan manusia, dan apabila hsl pertanian dikonsumsi terus, pd jangka wkt lama akan memunculkan penyakit bagi kesehatan manusia, seperti kanker, darah tinggi,dll
Penerapan Biological System ditujukan untuk secara kontinyu menjaga dan menetralisir residu logam dalam tanah, shg tanah akan selalu dalam kondisi siap produksi, karena apabila berjalan normal & benar, proses penguraian oleh mikrobiologi akan selalu berjalan.
ORGANISM SYSTEM
Aplikasi dari sistem ini dengan memberikan microorganisme tambahan, sejenis EFFECTIVE ORGANISM, pemberian hara tambahan berupa pupuk dasar ( kandang ), pemberian zat perangsang tumbuh, & pemberian pupuk organik cair secara aplikatif.
Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah tanpa meninggalkan residu logam di dalam tanah. Juga untuk menyediakan kecukupan hara di dalam tanah.
Dengan terapan kedua sistem diatas, maka seca alamiah akan terbentuk pabrik pupuk didalam tanah, dan meningkatkan fungsi stabiliser & fertilizer tanah terhadap tanaman.
MANFAAT ;
- Terbentuknya proses perbaikan lahan secara alami yg berpengaruh pd peningkatan hasil panen secara signifikan.
- Perbaikan kwalitas hasil panen ( lebih kenyal dsb..., tdk mudah busuk / basi ).
- Tanaman lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.
- Lebih tahan terhadap panas & kekeringan.
- Diperoleh hasil panen yg sehat untuk dikonsumsi.
Aplikasi :
1. Olah lahan menjadi siap tanam.
2. Masukkan pupuk dasar organik/ pupuk kandang ( boleh yg msh segar/lama ).
3. Siramkan EM secara merata dengan menggunakan sprayer.
4. Diamkan lahan 2 - 5 hari.( unt padi, sehabis EM disiram ke lahan, mskkan air ke lahan, air di lahan jangan dialirkan, diamkan 2 - 5 hari ).
5. Tanam bibit.
6. Lakukan penyemprotan ououk organik cair sesuai aplikasi.
ABI-OS merupakan terapan pengolahan lahan pertanian secara alami. Terapan ini lebih mengutamakan perbaikan lahan sebagai bentuk infestasi di bidang pertanian. sehingga dari kondisi lahan yg sempurna dengan perbaikan scr kontinyu diharapkan akan diperoleh hasil pertanian yg maksimal, baik secara kwantitatif maupun kwalitatif.
Terapan sistem pengolahan ini, memanfaatkan sistem kerja microbiologi & organisme, dan sebenarnya kedua hal tsb sudah diterapkan pd sistem pertanian pd jaman nenek moyang kita dulu.
MICROBIOLOGI SYSTEM
Berkaitan dengan proses Fisika ( pelapukan ), Biologi ( fermentasi ), dan Kimia ( penguraian)
Sebenarnya ketiga proses ini secara alamiah berjalan, meskipun dalam jangka waktu yg lama.
Dengan aplikasi ini, proses tersebut bisa dipercepat. Sehingga proses perbaikan lahan dapat berjalan secara kontinyu seiring dengan pembudidayaan lahan pertanian.
Dengan sistem ini dapat diperoleh hasil panen yg maksimal dengan aplikasi pengolahan lahan pertanian yg baik, benar, berbudaya.
Maksudnya :
1.Pengolahan lahan pertanian haruslah dimulai dengan tahapan2 yg runtut & benar, mulai dr proses pembalikan tanah sampai lahan siap tanam hrs benar2 diaplikasikan.
Hal ini dimaksudkan untuk menyediakan kecukupan oksigen di dalam tanah, shg tanah memberi ruang yg cukup bagi proses pengembangbiakan mocribiologi & mocroorganisme.
Sehingga secara otomatis proses biological akan berjalan sempurna.
2.Mengurangi / meniadakan pemakaian pupuk kimia.
Hal ini harus dilakukan karena pemakaian pupuk kimia yg berlebihan akan mengakibatkan penumpukan residu logam didalam tanah. Yang mengakibatkan struktur tanah akan menjadi terlalu liat & keras & warna tanah akan menjadi pucat karena kekurangan unsur hara & mineral tanah', dan akhirnya akan berpengaruh pd hasil panen yg menurun.
3.Mengurangi / meniadakan pemakaian pestisida & insectisida kimia. Karena kedua bahan tersebut juga meninggalkan residu logam di dalam tanah.
Peningkatan residu logam scr terus menerus,mengakibatkan fungsi microbiologi tidak berjalan dengan semestinya, bahkan pada titik tertentu akan memunculkan mutasi hama/ penyakit tanaman yg baru dan sulit untuk diberantas.
Residu logam juga berpengaruh bagi kesehatan manusia, dan apabila hsl pertanian dikonsumsi terus, pd jangka wkt lama akan memunculkan penyakit bagi kesehatan manusia, seperti kanker, darah tinggi,dll
Penerapan Biological System ditujukan untuk secara kontinyu menjaga dan menetralisir residu logam dalam tanah, shg tanah akan selalu dalam kondisi siap produksi, karena apabila berjalan normal & benar, proses penguraian oleh mikrobiologi akan selalu berjalan.
ORGANISM SYSTEM
Aplikasi dari sistem ini dengan memberikan microorganisme tambahan, sejenis EFFECTIVE ORGANISM, pemberian hara tambahan berupa pupuk dasar ( kandang ), pemberian zat perangsang tumbuh, & pemberian pupuk organik cair secara aplikatif.
Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga tingkat kesuburan tanah tanpa meninggalkan residu logam di dalam tanah. Juga untuk menyediakan kecukupan hara di dalam tanah.
Dengan terapan kedua sistem diatas, maka seca alamiah akan terbentuk pabrik pupuk didalam tanah, dan meningkatkan fungsi stabiliser & fertilizer tanah terhadap tanaman.
MANFAAT ;
- Terbentuknya proses perbaikan lahan secara alami yg berpengaruh pd peningkatan hasil panen secara signifikan.
- Perbaikan kwalitas hasil panen ( lebih kenyal dsb..., tdk mudah busuk / basi ).
- Tanaman lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.
- Lebih tahan terhadap panas & kekeringan.
- Diperoleh hasil panen yg sehat untuk dikonsumsi.
Aplikasi :
1. Olah lahan menjadi siap tanam.
2. Masukkan pupuk dasar organik/ pupuk kandang ( boleh yg msh segar/lama ).
3. Siramkan EM secara merata dengan menggunakan sprayer.
4. Diamkan lahan 2 - 5 hari.( unt padi, sehabis EM disiram ke lahan, mskkan air ke lahan, air di lahan jangan dialirkan, diamkan 2 - 5 hari ).
5. Tanam bibit.
6. Lakukan penyemprotan ououk organik cair sesuai aplikasi.
AGRICULTUR BIOLOGICAL-ORGANISM SYSTEM





Sayuran Organik?
Negara yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati tropika dengan sumber daya alam yang
beragam, Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan pertanian organik. Produk pertanian organik seperti sayuran diminati konsumen kelas menengah ke atas yang bersedia membayar lebih mahal untuk produk pangan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.
Di kalangan petani juga mulai muncul kesadaran untuk menerapkan praktek budi daya pertanian
organik, karena alasan lingkungan, sosial ekonomi, kemandirian, dan kesehatan. Di Indonesia,
pertanian organik mulai berkembang 4-5 tahun yang lalu.
Standar Nasional Indonesia tentang Sistem Pangan Organik tertuang dalam SNI 01-6729-2002,
yang memuat panduan tentang cara-cara budi daya pangan organik untuk tanaman pangan dan ternak, pengemasan, pelabelan, dan sertifikasinya.
Dukungan pemerintah dalam hal teknologi, standardisasi, sertifikasi, dan pengawasan produk
organik pun terus diupayakan. Untuk itu Departemen Pertanian telah mencanangkan program “Go Organic 2010”, dan menyiapkan perangkat peraturan di bidang standardisasi, sertifikasi, dan sosialisasi agribisnis pengembangan pertanian organik.
Sistem pertanian organik didefinisikan sebagai “kegiatan usaha tani secara menyeluruh sejak proses
produksi (prapanen) sampai proses pengolahan hasil (pascapanen) yang bersifat ramah lingkungan dan dikelola secara alami (tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetika), sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi” (SNI No. 01-6729-, 2002).
Untuk meningkatkan produktivitas lahan dan mencapai hasil yang optimal, pengelolaan lahan pada
budi daya sayuran organik menerapkan teknik rotasi tanaman, pemanfaatan residu tanaman, pupuk
kandang, tanaman legum, pupuk hijau, limbah organik dari luar kebun, pengolahan mekanis, pemanfaatan batuan mineral, serta aspek perlindungan tanaman secara biologis.
Prinsip Pertanian Organik
• Lahan untuk budi daya organik harus bebas cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida.
Lahan dapat berupa lahan pertanian yang baru dibuka atau lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi bergantung pada sejarah penggunaan lahan,
Produk pertanian organik sangat diminati konsumen kelas menengah ke atas. Mereka bersedia membayar lebih mahal untuk produk pangan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan. Untuk dapat menghasilkan produk yang memiliki sertifikat organik, ada beberapa prinsip yang perlu diketahui.
.• Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetic atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik.
• Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan
tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum.
• Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biopestisida, agen hayati, dan rotasi tanaman.
• Menghindari penggunaan hormone tumbuh dan bahan aditif sintetis pada pakan ternak dan
secara tidak langsung pada pupuk kandang.
• Penanganan pascapanen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.
Pengelolaan Pupuk Organik
Teknologi pengelolaan hara pada pertanian organik dilakukan melalui daur ulang hara tanaman secara alami untuk meningkatkan kesuburan biologis, fisik, dan kimia tanah.
Hara makro dan mikro yang terangkut panen dikembalikan dengan menambahkan pupuk organik dan
sisa tanaman secara periodik ke dalam tanah, baik dalam bentuk pupuk hijau maupun kompos. Pupuk organik dianjurkan berasal dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak yang dikomposkan, serasah sisa tanaman legum, pangkasan tanaman pagar, sampah organik,
dan hijauan titonia. Kotoran ternak yang digunakan tidak boleh berasal dari ternak yang dikelola dalam factory farming.
Pupuk organik berupa kombinasi pupuk kandang dan hijauan titonia dengan takaran 20 t/ha dapat
memenuhi kebutuhan hara sayuran organik. Hijauan titonia sebagai sumber pupuk organik dapat
direkomendasikan karena kandungan hara P dan K relatif tinggi, mudah tumbuh, dan banyak terdapat
di sekitar lokasi lahan budi daya organik.
Tanaman legum berfungsi sebagai penyedia hara N bagi tanaman melalui pengikatan nitrogen
bebas di udara oleh bakteri Rhizobium pada nodul akar tanaman.
Tanaman legum ditata sebagai tanaman pagar (hedgerow) atau tanaman penutup tanah bersama
tanaman utama secara multikultur atau rotasi. Tanaman pagar atau tanaman inang juga berfungsi sebagai perangkap predator hama.
Teknologi pertanian organik hendaknya mengintegrasikan ternak ayam, kambing atau sapi dalam
kebun organik. Kotoran hewan dapat digunakan sebagai sumber pupuk organik. Bahan amelioran
alami yang diperbolehkan dalam budi daya pertanian organik adalah dolomit, kapur, dan fosfat alam bila terjadi kahat hara Mg, Ca, dan P pada tanah yang tidak dapat diatasi dengan penambahan pupuk organik saja. Dapat pula dilakukan pengkayaan pupuk organik dengan beberapa bahan mineral seperti dolomit, kapur, dan fosfat alam untuk meningkatkan jumlah dan jenis kadar hara dalam pupuk organik.
Penanaman Sayuran Organik
Sayuran ditanam pada bedengan berukuran 1 m x 8-10 m dan tinggi 20-30 cm, sesuai dengan ketersediaan lahan dan jenis sayuran yang akan ditanam. Sekeliling bedengan ditanami rumput untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan sehingga kehilangan pupuk melalui aliran permukaan berkurang.
Pengaturan dan pemilihan jenis tanaman sayuran sesuai dengan musim tanam sangat dianjurkan
untuk mengurangi risiko kegagalan panen karena serangan hama dan penyakit. Pemilihan tanaman legume yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur serta mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legum dalam setiap musim tanam dapat meningkatkan kadar nitrogen tanah dan mencegah penyakit tanaman.
Memberikan pupuk organik yang bervariasi seperti kombinasi pupuk kandang dan pupuk hijau
sangat dianjurkan sehingga semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia. Untuk meningkatkan kesuburan tanah, pengembalian sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah dalam bentuk segar atau kompos perlu dilakukan. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, dapat ditanam kenikir, kemangi, kacang babi, tephrosia, lavender, dan nimba di antara bedengan serta menjaga kebersihan areal pertanaman. Tanaman obat dan rempah seperti tanaman rimpang- rimpangan, babandotan, lada, dan sirih dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati yang aman dan ramah lingkungan selain mudah pembuatannya. Sebelum membuat ramuan pestisida nabati, perlu diketahui hama atau penyakit yang sering menyerang sayuran yang ditanam.
Langganan:
Postingan (Atom)
