IMPIAN ADALAH AWAL DARI SEBUAH CITA CITA........
DENGAN DO'A, KETEKUNAN, KERJA KERAS, & PANTANG MENYERAH...........
AKAN KURENGKUH IMPIAN ITU MENJADI SEBUAH CITA CITA YANG BERBUAH KENYATAAN...............
PERTANIAN ORGANIK.........

ORGANIK IS MY LIVE

ORGANIK IS MY LIVE

Senin, 04 Januari 2010

AGRICULTUR BIOLOGICAL-ORGANISM SYSTEM






Sayuran Organik?
Negara yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati tropika dengan sumber daya alam yang
beragam, Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengembangkan pertanian organik. Produk pertanian organik seperti sayuran diminati konsumen kelas menengah ke atas yang bersedia membayar lebih mahal untuk produk pangan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan.
Di kalangan petani juga mulai muncul kesadaran untuk menerapkan praktek budi daya pertanian
organik, karena alasan lingkungan, sosial ekonomi, kemandirian, dan kesehatan. Di Indonesia,
pertanian organik mulai berkembang 4-5 tahun yang lalu.
Standar Nasional Indonesia tentang Sistem Pangan Organik tertuang dalam SNI 01-6729-2002,
yang memuat panduan tentang cara-cara budi daya pangan organik untuk tanaman pangan dan ternak, pengemasan, pelabelan, dan sertifikasinya.
Dukungan pemerintah dalam hal teknologi, standardisasi, sertifikasi, dan pengawasan produk
organik pun terus diupayakan. Untuk itu Departemen Pertanian telah mencanangkan program “Go Organic 2010”, dan menyiapkan perangkat peraturan di bidang standardisasi, sertifikasi, dan sosialisasi agribisnis pengembangan pertanian organik.
Sistem pertanian organik didefinisikan sebagai “kegiatan usaha tani secara menyeluruh sejak proses
produksi (prapanen) sampai proses pengolahan hasil (pascapanen) yang bersifat ramah lingkungan dan dikelola secara alami (tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetika), sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi” (SNI No. 01-6729-, 2002).
Untuk meningkatkan produktivitas lahan dan mencapai hasil yang optimal, pengelolaan lahan pada
budi daya sayuran organik menerapkan teknik rotasi tanaman, pemanfaatan residu tanaman, pupuk
kandang, tanaman legum, pupuk hijau, limbah organik dari luar kebun, pengolahan mekanis, pemanfaatan batuan mineral, serta aspek perlindungan tanaman secara biologis.
Prinsip Pertanian Organik
• Lahan untuk budi daya organik harus bebas cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida.
Lahan dapat berupa lahan pertanian yang baru dibuka atau lahan pertanian intensif yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi bergantung pada sejarah penggunaan lahan,
Produk pertanian organik sangat diminati konsumen kelas menengah ke atas. Mereka bersedia membayar lebih mahal untuk produk pangan yang sehat, aman, dan ramah lingkungan. Untuk dapat menghasilkan produk yang memiliki sertifikat organik, ada beberapa prinsip yang perlu diketahui.
.• Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetic atau genetically modified organism (GMO). Sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik.
• Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan
tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum.
• Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biopestisida, agen hayati, dan rotasi tanaman.
• Menghindari penggunaan hormone tumbuh dan bahan aditif sintetis pada pakan ternak dan
secara tidak langsung pada pupuk kandang.
• Penanganan pascapanen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.
Pengelolaan Pupuk Organik
Teknologi pengelolaan hara pada pertanian organik dilakukan melalui daur ulang hara tanaman secara alami untuk meningkatkan kesuburan biologis, fisik, dan kimia tanah.
Hara makro dan mikro yang terangkut panen dikembalikan dengan menambahkan pupuk organik dan
sisa tanaman secara periodik ke dalam tanah, baik dalam bentuk pupuk hijau maupun kompos. Pupuk organik dianjurkan berasal dari bahan-bahan organik seperti kotoran ternak yang dikomposkan, serasah sisa tanaman legum, pangkasan tanaman pagar, sampah organik,
dan hijauan titonia. Kotoran ternak yang digunakan tidak boleh berasal dari ternak yang dikelola dalam factory farming.
Pupuk organik berupa kombinasi pupuk kandang dan hijauan titonia dengan takaran 20 t/ha dapat
memenuhi kebutuhan hara sayuran organik. Hijauan titonia sebagai sumber pupuk organik dapat
direkomendasikan karena kandungan hara P dan K relatif tinggi, mudah tumbuh, dan banyak terdapat
di sekitar lokasi lahan budi daya organik.
Tanaman legum berfungsi sebagai penyedia hara N bagi tanaman melalui pengikatan nitrogen
bebas di udara oleh bakteri Rhizobium pada nodul akar tanaman.
Tanaman legum ditata sebagai tanaman pagar (hedgerow) atau tanaman penutup tanah bersama
tanaman utama secara multikultur atau rotasi. Tanaman pagar atau tanaman inang juga berfungsi sebagai perangkap predator hama.
Teknologi pertanian organik hendaknya mengintegrasikan ternak ayam, kambing atau sapi dalam
kebun organik. Kotoran hewan dapat digunakan sebagai sumber pupuk organik. Bahan amelioran
alami yang diperbolehkan dalam budi daya pertanian organik adalah dolomit, kapur, dan fosfat alam bila terjadi kahat hara Mg, Ca, dan P pada tanah yang tidak dapat diatasi dengan penambahan pupuk organik saja. Dapat pula dilakukan pengkayaan pupuk organik dengan beberapa bahan mineral seperti dolomit, kapur, dan fosfat alam untuk meningkatkan jumlah dan jenis kadar hara dalam pupuk organik.
Penanaman Sayuran Organik
Sayuran ditanam pada bedengan berukuran 1 m x 8-10 m dan tinggi 20-30 cm, sesuai dengan ketersediaan lahan dan jenis sayuran yang akan ditanam. Sekeliling bedengan ditanami rumput untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan sehingga kehilangan pupuk melalui aliran permukaan berkurang.
Pengaturan dan pemilihan jenis tanaman sayuran sesuai dengan musim tanam sangat dianjurkan
untuk mengurangi risiko kegagalan panen karena serangan hama dan penyakit. Pemilihan tanaman legume yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur serta mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legum dalam setiap musim tanam dapat meningkatkan kadar nitrogen tanah dan mencegah penyakit tanaman.
Memberikan pupuk organik yang bervariasi seperti kombinasi pupuk kandang dan pupuk hijau
sangat dianjurkan sehingga semua unsur hara yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia. Untuk meningkatkan kesuburan tanah, pengembalian sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah dalam bentuk segar atau kompos perlu dilakukan. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, dapat ditanam kenikir, kemangi, kacang babi, tephrosia, lavender, dan nimba di antara bedengan serta menjaga kebersihan areal pertanaman. Tanaman obat dan rempah seperti tanaman rimpang- rimpangan, babandotan, lada, dan sirih dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan pestisida nabati yang aman dan ramah lingkungan selain mudah pembuatannya. Sebelum membuat ramuan pestisida nabati, perlu diketahui hama atau penyakit yang sering menyerang sayuran yang ditanam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar